18 Mei 2009

Kematian Hati

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat laiknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya.

Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa,tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.

Tersanjungkah engkau yang pandai bercakap tentang keheningan senyap ditingkah rintih istighfar, kecupak air wudlu di dingin malam, lapar perut karena shiam atau kedalaman munajat dalam rakaat-rakaat panjang.

Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra. Selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidak tahuan mereka”, ucapnya lirih.

Ada orang bekerja keras dengan mengorbankan begitu banyak harta dan dana,lalu ia lupakan semua itu dan tak pernah mengenangnya lagi. Ada orang beramal besar dan selalu mengingat-ingatnya, bahkan sebagian menyebut-nyebutnya. Ada orang beramal sedikit dan mengklaim amalnya sangat banyak. Dan ada orang yang sama sekali tak pernah beramal, lalu merasa banyak amal dan menyalahkan orang yang beramal, karena kekurangan atau ketidak-sesuaian amal mereka dengan lamunan pribadinya, atau tidak mau kalah dan tertinggal di belakang para pejuang.

Mereka telah menukar kerja dengan kata. Dimana kau letakkan dirimu?

Saat kecil, engkau begitu takut gelap, suara dan segala yang asing. Begitu kerap engkau bergetar dan takut. Sesudah pengalaman dan ilmu makin bertambah, engkaupun berani tampil di depan seorang kaisar tanpa rasa gentar. Semua sudah jadi biasa, tanpa rasa.

Telah berapa hari engkau hidup dalam lumpur yang membunuh hatimu sehingga getarannya tak terasa lagi saat ma’siat menggodamu dan engkau meni’matinya? Malam-malam berharga berlalu tanpa satu rakaatpun kau kerjakan. Usia berkurang banyak tanpa jenjang kedewasaan ruhani meninggi. Rasa malu kepada ALLAH, dimana kau kubur dia?

Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.


Selengkapnya...

...Meniti Tangga Dakwah......

Kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar di bawah komando Rosululloh tak lepas dari peran-peran intelejen dan keteguhan menjaga rahasia yang dilakukan oleh Rosululloh dan para sahabat. Betapa berharganya data dan informasi saat itu sampai Rosululloh beberapa kali mengutus sahabat untuk melakukan pengintaian, penyusupan dan penggalian informasi, begitu juga Abu Sufyan yang memimpin pasukan Quraisy melakukan hal yang sama untuk mengukur kekuatan kaum muslimin. Data dan informasi tersebut kemudian diolah untuk menentukan strategi apa yang harus dijalankan agar kemenangan dapat diraih. Berkat kecerdikan Rosululloh dalam mengolah data, mengkoordinasikan pasukan dan komando yang jelas maka perang Badar pun dimenangkan kaum muslimin.

Dakwah kita hari ini harus bercermin pada apa yang pernah dicontohkan Rosulullah. Dalam buku Manhaj Haraky dikenal istilah Sirriyatu Tandzim wa Jahriyatu Dakwah. Yaitu strategi penataan yang dirahasiakan tetapi produk seruan dakwah yang terbuka dan terang-terangan. Ketika Rosulullah SAW hijrah ke Madinah maka kerahasiaan penataan Dakwah tetap dijaga. Terutama dari golongan munafik dan Yahudi.

Seorang kader hendaknya menguasai keterampilan intelejen yang meliputi: teknik pengintaian, pengumpulan informasi, menjaga rahasia (amniyyah), menerapkan strategi aksi sampai akhirnya memenangkan pertarurangan. Amniyyah adalah memberikan jaminan keselamatan terhadap gerakan Islam dari segala hal yang membahayakan, baik yang timbul dari individu, kelompok atau dari pemerintahan yang dzolim. Adanya kerahasiaan dalam sebuah pergerakan dakwah adalah hal yang mutlak. Tidak semua hal dapat dipubikasikan ke masyarakat. Selain karena kondisi pemahaman masyarakat yang masih terbatas, faktor musuh-musuh dakwah juga harus mendapat perhatian. Aktivitas penyerapan informasi dan rencana aksi yang dijalankan menuntut nilai amniyyah yang sangat besar. Sekali terbongkar, maka gagallah semua rencana dan target. Namun jika ia terjaga maka strategi menghadapi makar musuh dapat dilakukan. Dengan demikian keselamatan gerakan dan pelaku dakwah tetap terjamin.

Secara umum Amniyyah dapat dibagi dalam dua hal. Pertama, amniyyah yang menyangkut struktur dakwah. Suatu hari Ust. Tifatul pernah ditanya oleh para wartawan, ”ustadz, strategi apa yang akan dijalankan PKS untuk memenangkan Pemilu 2009?”. ”wah, kalo strategi diumumkan sekarang, ketauan dong sama partai lain...” begitu jawab Ust.Tifatul. Ini adalah contoh bagaimana kita harus merahasiakan hal-hal yang terkait kebijakan struktur dakwah. Seorang kader, apalagi pengurus, harus mampu mengamankan data-data penting, strategi aksi, dan kondisi internal struktur agar tidak bocor kepada pihak lain. Kalau sampai bocor, akan sangat mudah bagi musuh membaca peta kekuatan kita dan mengalahkan kita.

Kedua, amniyyah yang menyangkut pribadi kader dakwah. Seorang akhwat pernah mengeluh, ketika apa yang selama ini menjadi persoalan pribadinya tiba-tiba sudah menjadi isu publik. Seorang kader pelaku dakwah tentu memiliki berbagai persoalan pribadi, baik yang berhubungan dengan keluarga, keuangan, pekerjaan dan lainnya. Jika hal itu menjadi rahasia pribadinya, maka tentu tidak etis jika hal itu disebarluaskan. Ketika rahasia pribadi sudah terbuka, maka akan melemahkan izzah (harga diri) dan kepercayaan diri yang bersangkutan. Secara langsung akan berdampak pada kinerja dakwahnya, bahkan sangat mungkin akan menyebabkan futhur (turunnya semangat berdakwah) dan insilakh (keluarnya seorang kader dari barisan dakwah). Naudzu billahi min dzalik.

Selengkapnya...

MEMPERBAHARUI KOMITMEN KITA TERHADAP DAKWAH

Keputusan seseorang untuk bergabung dengan barisan dakwah, menuntut orang itu untuk senantiasa meluruskan dan memperbaharui komitmennya supaya tidak ada lagi awan keraguan yang menyelimuti hatinya. Dalam setiap amal dan aktivitas yang dilakukan, seharusnya seorang da’i senantiasa mengingat bahwa dirinya telah terikat dengan semua aturan dan tata tertibnya. Terutama, ketika seorang da’i mengetahui bahwa dakwah yang digelutinya bersifat Islami yang mengadopsi prinsip-prinsipnya dari peraturan-peraturan Allah dan Undang-undang langit (wahyu). Saat itu, seorang da’i harus menyadari bahwa banyak konsekuensi dan amanah yang harus ditunaikannya dengan sempurna.

Namun, ketika begitu banyak tanggungjawab yang harus dipikul dan kesibukan yang menuntut segera dituntaskan, seorang da’i bisa saja lupa—atau melupakan—hakikat komitmennya terhadap dakwah sehingga lalai dengan hak dan kewajibannya yang harus dijalankan. Walaupun ia menjalankan tugasnya, tak lebih hanya sekedar menggugurkan kewajibannya atau asal-asalan. Adalah sangat mungkin seorang da’i—hatta yang sudah senior sekalipun—mengalami saat-saat dimana komitmen yang semula terpancang begitu kokoh, akhirnya luntur bahkan hilang sama sekali.

Muhammad Abduh dalam bukunya Komitmen Da'i Sejati mencoba mengulas lebih dalam mengenai hakikat komitmen seorang muslim ketika dia beramal dakwah. Buku yang terdiri dari empat bab ini sangat layak untuk dijadikan referensi utama dalam proses pembentukan seorang da'i atau untuk meneguhkan kembali komitmen para da'i yang telah terjun ke medan dakwah. Di bab pertama buku ini mengulas tentang bentuk komitmen apa saja yang harus dipenuhi setiap da'i. Diantaranya adalah: memahami kondisi masyarakat dengan segala problemtikanya sehingga akan melahirkan pandangan yang menyeluruh tentang Islam dan dakwah; komitmen terhadap aqidah yang menjadi landasan dalam berdakwah; komitmen dan yakin dengan tujuan, sasaran dan sarana-sarana dakwah; Menguasi manhaj, peraturan dan Undang-undang dakwah; dan komitmen dengan sikap dakwah terhadap aliran dakwah lain.

Untuk dapat menumbuhkan komitmen, diperlukan berbagai sarana dan pesiapan yang harus dilakukan oleh setiap muslim, keimanan yang mendalam dan keinginan yang kuat merupakan syarat utama yang harus disiapkan oleh sang da'i . Kesungguhan dan rasa optimis akan mengokohkan komitmen yang sudah terpatri, jika seorang da'i masih dibayangi keraguan dan pesimis akan sangat sulit menumbuhkan komitmennya. Selain itu, seorang da'i juga harus menjadi teladan bagi orang lain dan mampu besikap lemah lembut sehingga mampu menjadi daya tarik tersendiri ketika ia berupaya mengajak orang lain ke jalan Allah.

Komitmen seorang da'i pada akhirnya akan diuji ketika ia dihadapkan pada kewajiban-kewajiban praktis yang harus segera dijalankan. Apakah ia masih komitmen ketika diharuskan membayar infaq bagi kelangsungan dakwah; atau ketika qiyadah yang dipilih tidak sesuai dengan harapannya. Apakah ia masih aktif dan selalu menghadiri kegiatan-kegiatan yang diselenggarkan oleh jama’ah ditengah kesibukannya yang padat.

Di bab akhir buku ini dijelaskan mengenai bahaya dan rintangan yang bisa menghancurkan bangunan jama’ah bila hal ini dibiarkan. Diantaranya sifat individualisme yang memicu perpecahan internal; ambisi pribadi untuk menjadi pemimpin dan malasnya kader menghadiri liqa atau taklim pekanan yang berakibat pada melemahnya intima’ (keterikatan) terhadap dakwah.

Sesungguhnya ketika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus, maka tidak akan banyak da'i yang berguguran di tengah jalan. Ia menyadari bahwa tidak mungkin dakwah ini ditinggalkan sementara Allah telah membeli harta dan jiwanya dengan jannah yang dijanjikan. Ia akan terus bertahan, lalu kembali bergerak untuk segera menyelesaikan tugas-tugasnya. Dan ia pun tidak takut ketika nyawanya harus lepas dari jasad untuk membuktikan janji kepada Allah yang menggenggam jiwanya. Saatnya bekerja teman.

Selengkapnya...

Beberapa Rintangan di Jalan yang Kita Lalui (2)

Allah menjadikan manusia dari tanah lalu dia meniupkan ruhNya. Pada diri manusia terdapat beberapa tarikan: ada tarikan ke dunia supaya dia merasa kerasan di dalamnya. Ada juga tarikan rabbani (ketuhanan) menariknya naik ke langit. Itulah dia medan Jihad, lapangan perjuangan dan mujahadah. Di situlah kita melatih diri, menerima ujian fitnah, antara condong ke dunia dan berusaha mencapai rahmat Allah.

"Barangsiapa yang menginginkan keuntungan di akhirat, akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menginginkan keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya satu bahagian pun di akhirat." As-Syuura: 20

Barang siapa yang berusaha mengurangi kecenderungan duniawi dan mengangkat dirinya naik ke langit, dia berjalan di atas jalan dakwah dan mengarungi berbagai bukit rintangan dengan pertolongan dari Allah dan taufikNya. Barangsiapa yang memandang ringan godaan dan tarikan duniawi, tidak berjihad melawan nafsunya, lambat laun nafsunya akan mengalahkannya dan menguasainya, lalu dia terperangkap dan tergoda dengan dunia, sehingga dia terjatuh kepada murka Allah dan siksaNya.

"Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah kamu cintai lebih dari Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusannya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik". At-Taubah: 24

9.1 Usaha Mencari Rezeki

Seorang pemuda atau pelajar Islam yang melalui jalan dakwah, sebenarnya masih ringan dari beban menanggung anggota keluarga. Ia belum memasuki dunia mencari rezeki dan masih mudah melangkah di atas jalan dakwah tanpa mengalami ujian komitmen, tekanan atau gangguan. Tetapi setelah dia tamat pendidikan, mereka akan terikat dengan pekerjaan atau menyandang satu jabatan.

Mulaiah dia merasa adanya konflik antara pekerjaan dengan iltizamnya yang lama dia pelihara. Berkemungkinan perasaan yang demikian mendorongnya untuk membatasi kegiatan dakwahnya dan mengurangi jihadnya. Gerakan dakwahnya pun mulai melambat dan akhirnya berhenti di tengah jalan. Ia akhirnya, tidak mau meneruskan perjalannya di bidang dakwah. Sekiranya dia tidak mempunyai iman yang teguh, akidah yang mantap dan keazaman yang kukuh, pastilah dia tidak akan mampu melepas rintangan dan halangan itu.

Kekuatan imanlah yang akan memudahkan dia meneruskan perjalanannya di dalam urusan dakwah Islam dengan penuh keyakinan bahwa Allah swt. itulah yang Penjamin rezeki. Jabatan hanyalah satu alat untuk dipergunakan demi mencapai dan merealisasikan cita-cita di dunia ini untuk mencapai keridhaan Allah. Oleh karena itu, sarana tertentu tidak boleh diubah menjadi rintangan yang menghalangi kita mencapai tujuan.

9.2 Isteri dan Anak-Anak

Sesudah kita menerangkan bagaimana jabatan bertukar menjadi penghalang yang mulanya menjadi wasilah, muncullah pula peranan perkawinan dengan segala perkara yang berhubungan dengannya. Muncullah pula berbagai beban, sekatan-sekatan dan tarikan yang memperdayakan seseorang hingga condong kepada kehidupan duniawi dan ingin melekat kepadanya. Demikian juga anak-anak yang kita kasihi mengikat kita.

Kita sibuk mengurus urusan dan segala keperluan mereka hingga membuat kita risau memikirkan berbagai masalah untuk kepentingan mereka. Semuanya itu mungkin mempengaruhi orang yang berjalan di atas jalan dakwah dan inilah yang selalu mengganggu dakwah. la menghalangi pendukung dakwah untuk meneruskan dakwah dan jihad pada jalan Allah dan boleh jadi (semoga di jauhkan Allah dari perkara sedemikian) berhenti langsung dari dakwah dan jihad Islam.

Benarlah Allah yang Maha Agung ketika ia berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isteri kamu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka."At-Taghabun: 14

Adapun orang yang beriman dengan iman yang benar, yang telah berjanji dengan Allah untuk bekerja di jalan dakwah, maka sesungguhnya dia akan beriltizam dengan sunnah Rasulullah lalu dia berikhtiar sebaik-baiknya untuk memilih isteri yang salih yang akan menolongnya melaksanakan tugasnya di dalam urusan dakwah Islam, bukan merintangi perjalanannya. Isteri inilah yang akan bekerjasama dan bergandeng tangan dalam mendidik dan membentuk generasi yang salih untuk menjadi penyejuk mata dan menggembirakan hati mereka. Anak-anak ini nanti yang akan memuliakan agama Allah dan membangun daulah Islam di muka bumi.

Alangkah baik dan indahnya doa hamba Ar-Rahman yang terlukis di dalam Al-Quran:
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa". Al-Furqan: 74

Lantaran itu, dia bersama dengan isteri dan anak-anaknya senantiasa berada di atas jalan dakwah ini. Dia bersama keluarganya dan jamaah Islam berjalan terus di atas jalan dakwah dan menjadi qudwah hasanah (contoh teladan yang baik) sebagai keluarga Islam teladan dan menjadi tiang yang teguh untuk membangun masyarakat Islam.

Kita telah melihat di dalam sejarah dakwah Islam di zaman silam dan zaman modern ini beberapa banyak isteri-isteri solehah yang menunjukkan jasa-jasa yang besar dan gemilang, menjadi pendamping, penyokong dan pendorong kepada suami mereka.

Contoh yang paling ideal dan paling istimewa dari mereka ialah Saidatina Khadijah r.a., Ummul Mukminin yang utama dan pertama itu. Mata air umat Islam ini tidak pernah kering dari kebaikan sepanjang masa. Kita juga dapat menyaksikan di zaman modern ini beberapa contoh dan model yang indah dan istemewa dari isteri-isteri muslimah yang solehah, sabar dan tabah menanggung penderitaan bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun mengalami berbagai bentuk gangguan dan penyiksaan, mereka dipaksa masuk penjara yang gelap gulita dan penuh penyiksaan yang kejam dan sengsara.

Isteri-isteri yang solehah itu menerima segala-galanya dengan ridha dan bergembira dengan mengharapkan keridhaan Allah. Justru mereka bangun melindungi, mendidik, mengurus anak-anak dan segala keperluan hidup tanpa henti dan jemu di samping senantiasa mendorong suami-suami mereka supaya tetap bertahan di atas kebenaran, berhadapan dengan kezaliman para thagut. Mereka senantiasa menenangkan hati suami mereka.

Ada pula sebagian dari isteri yang solehah itu dimasukkan kedalam penjara yang gelap gulita dan di dalam tahanan penuh dengan berbagai gangguan dan penyiksaan. Mereka tetap bersabar dan ridha menanggungnya tanpa mundur dari jalan dakwah dan tidak pernah bergeser dari jihad dan perjuangan Islam.

9.3 Mabuk Dunia dan Harta

Ada satu lagi rintangan yang mengancam sebagian dari pendukung dakwah. Rintangan ini memerlukan penguasaan yang keras karena daya tarikannya juga sangat keras. Yaitu terbukanya dunia kepada mereka, berkembangnya urusan mencari harta, mudah memperoleh harta sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya mendapati dirinya dimabuk harta. Segala waktunya, usahanya, kegiatannya, tenaga pemikirannya ditumpukan untuk mencari dan melonggokkan harta. Akhirnya dia menjadi alat harta dan dikuasai oleh harta yang pada mulanya dicari untuk menjadi alat dakwah dan jihadnya, alat untuk mencari keridhaan Allah.

Sesungguhnya mencari harta yang halal itu tidak boleh dihalang, bahkan digalakkan di dalam syariat Islam. Tetapi, ia hanya alat dan bukan menjadi tujuan utama, bukan tujuan yang besar di mana ia menumpukan segala pemikiran dan ilmu semata-mata kepadanya saja sehingga menghalangi para pendukung dakwah dari melaksanakan urusan dakwah Islam. Harta itu juga tidak menghalanginya dari melaksanakan hak-hak Allah di dalam harta itu. Mengorbankan sebagian darinya pada jalan Allah dianggap sebagai satu perbuatan yang terpuji dan tanda bersyukur. Tetapi tuntutan dan keperluan dakwah tidak cukup hanya seukuran itu saja.

Lihatlah contoh-contoh yang ditunjukkan oleh Saidina Utsman r.a., Saidina Abdul Rahaman bin Auf r.a. dan para sahabat Rasulullah saw. yang mempunyai harta yang banyak yang diperoleh dari perniagaan mereka. Semuanya itu tidak menyibukkan mereka dan tidak menghalangi mereka dari melaksanakan tugas-tugas dakwah dan berjihad di jalan Allah. Lebih dari itu, mereka telah mengorbankan sebagian dari harta mereka dengan mudah dan ridha pada jalan Allah tatkala kepentingan dakwah menghendaki yang demikian itu.

Cinta harta dan mabuk dunia bisa menyelusup masuk dalam diri dan meresap dalam jiwa. Dari situlah, orang yang mabuk dunia menjadi dunia sebagai tujuan utama bukan lagi sarana dakwah dan alat mencari keredhaan Allah. Mereka menjadi lalai dari menunaikan perkara-perkara wajib, terlebih lagi yang sunat. Bukan itu saja. Mereka memfokuskan seluruh gagasan dan usahanya untuk menimbun harta hingga sampai ke satu peringkat di mana mereka menjadi hamba harta lalu enggan berpisah dari harta sehingga dia dijemput oleh maut. Hanya kematian atau sesuatu kejadian yang memaksa mereka meninggalkan harta yang amat dicintai.


Akhirnya mereka menghadapi penyesalan dan hisab yang sangat teliti di hari Akhirat. Jadi orang yang beriman, yang benar, wajib mengawasi dirinya dengan pengawasan yang sangat keras supaya tidak jatuh tersungkur di dalam rintangan seperti. Harta yang sedikit yang mencukupi adalah lebih baik dari harta yang banyak tetapi melalaikan.

Imam Muslim telah meriwayatkan sabda Rasulullah s.a.w. : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang telah Islam dan diberi rezeki yang mencukupi sesuai dengan keperluannya dan memberi kepuasan kepadanya dengan apa yang telah dikurniakan kepadanya."

9.4 Suara-Suara Penghalang dan Pelemah Yang Melemahkan

Sebagian lagi dari rintangan-rintangan yang patut kita perhatikan agar kita tidak memandang ringan bahayanya ialah suara-suara atau bisikan-bisikan yang menghalangi dan melemahkan. Suara-suara itu berupa bisikan kepada para pendukung dakwah dari sekitarnya. Bentuknya begitu beragam, bisa berupa nasihat, taujihat, ajaran-ajaran dan bahkan ancaman dari pihak yang hatinya berpenyakit. Mereka ini adalah golongan yang lemah kemauan untuk meneruskan perjalanannya dan tidak' sanggup lagi memikul tanggungjawab dakwah yang besar dan susah karena lebih mengutamakan kenyamanan dan keselamatan diri daripada panas teriknya api jihad dan nyala dakwah Islam.

Al Quranul Karim telah menyuruh kita berhati-hati dan berwaspada dari golongan manusia seperti itu dan memberitakan kepada kita berbagai bentuk uslub, cara-cara, pengaruh dan tipu daya mereka terhadap dakwah dan pendukungnya. Allah membalas mereka dan membuka kedok mereka di dalam firmanNya yang bermaksud:

"Dan mereka berkata: ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah: ‘Api nereka jahanam itu lebih dahsyat panasnya jikalau mereka memahami." At-Taubah: 81

"Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: ‘Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh". Katakanlah: "Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang benar." Ali lmran: 168

"Jika mereka berangkat bersama-sama kamu niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka dan tentu mereka akan bergegas maju ke celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan di antaramu, sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang yang zalim." At Taubah: 47

Adakalanya bentuk ancaman yang menakut-nakutkan itu datangnya dari musuh-musuh Allah dan kekuatan mereka tetapi Al-Quran menceritakan kepada kita bagaimana orang-orang mukmin yang benar-benar beriman telah berjaya menghadapi saranan dan propaganda yang menakut-nakuti itu. Malah iman mereka semakin bertambah dan penyerahan diri mereka kepada Allah lebih pasrah dan bertawakal penuh kepadaNya.

Al-Quranul Karim juga menceritakan kepada kita bagaimana akibat dan natijah yang baik telah dicapai oleh orang-orang yang beriman. Al-Quran menggambarkan kepada kita akan hakikat propaganda yang menakut-nakutkan itu hanyalah merupakan uslub dan cara-cara iblis yang terkutuk sebagaimana firman Allah Taala:

"(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan RasulNya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan bertakwa, ada pahala besar. (Yaitu) orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul yang kepada mereka ada orang-orang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka." Kata-kata itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka mereka kembali dengan nikmat dan kurnia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar. Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakutkan kamu dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman." Ali lmran: 172-175

Al-Quran Al Karim melarang kita merasa hina, lemah dan tidak berdaya sebagaimana firman Allah:
"Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamu orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman." Ali lmran: 139

"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderita, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana ". An Nisaa': 104

Firmannya lagi:

"Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah. Dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang sabar." Alilmran: 146

Lantaran itu, pendukung dakwah yang berjalan di atas jalan dakwah dan telah menjual dirinya kepada Allah. Mereka harus berwaspada dan tidak terpengaruh dengan suara-suara sumbang dan propaganda-propaganda yang menakut-nakutkan yang semata-mata bertujuan menyekat perjalanan dakwah dan para pendukungnya.

Hendaklah mereka percaya dengan sepenuh jiwa kepada Allah dan pertolonganNya dan bertakwalah kepadaNya dan janganlah suaranya lemah apabila berhadapan dengan kebatilan. Alangkah indahnya mutiara kata-kata dari Imam as-Syahid Hassan al-Banna dalam pengertian itu:
"Kekuatan paling bagus apabila berada di dalam kebenaran, dan seburuk-buruk kelemahan ialah apabila ia berada di pihak yang batil."

9.5 Kekerasan Hati Karena Lama Istirahat

Ini adalah satu lagi rintangan yang memerlukan kewaspadaan karena ia tidak muncul sekaligus, tetapi secara perlahan dan berangsur-angsur sehingga hampir-hampir tidak disadari oleh orang yang berjalan di atas jalan dakwah. Yaitu kekerasan hati lantaran telah lama sangat jauh dari kegiatan dakwah. Lalu tekad dan kemauannya melemah untuk terus bergiat dan berusaha dalam urusan dakwah dan pada akhirnya tekad itu pun akhirnya padam di dalam dirinya.

Kehangatan Islam sudah tidak terasa lagi dan pengaruh dakwah sudah tidak menusuk hati dan tidak berminat lagi untuk melibatkan diri dengan urusan dakwah dan melaksanakan tugas-tugas jihad pada jalan Allah. Hatinya semakin hari semakin berkarat sehingga tatkala membaca al-Quran hatinya tidak mendapat kesan apa pun, shalatnya tidak khusyuk, kadang-kadang lupa lalu meninggalkan shalat beberapa hari dan waktu tanpa sesal dan rugi dalam diri.

Akhirnya dia mendapati dirinya jauh dari sifat-sifat mukmin seperti yang digambar oleh Allah di dalam al-Quran:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah keimanan mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." Al-Anfaal: 2

Allah swt. menyuruh kita berwaspada supaya kita tidak jatuh tersungkur di dalam kekerasan hati seperti ini di dalam firmanNya:

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingati Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan kitab. Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."Al-Hadid:16

Untuk menjaga diri dari halangan ini, pendukung dakwah yang berjalan di atas jalan dakwah mestilah senantiasa memelihara dirinya supaya tidak terasing dari saudara-saudaranya agar senantiasa berada di dalam amal dan kegiatan dakwah. Tolong-menolong di dalam kebaikan serta saling berpesan tentang kebenaran dan kesabaran. Dia mesti membiasakan dirinya dengan tugas-tugas dan saudara-saudaranya yang bekerja dan beramal di bidang dakwah. Dia mestilah senantiasa memperbaiki hubungannya dengan kitab Allah dan selalu memeriksa dirinya (muhasabah) sendiri dengan segala perbuatannya satu demi satu. Di samping itu saudara-saudaranya wajib memberi peringatan apabila dia lupa dan menolongnya beramal apabila dia telah ingat.

9.6 Sungguhpun Demikian, Kita Tidak Boleh Merasa Aman

Barang siapa berjalan di atas jalan dakwah tidak boleh merasa aman walau sekejap mata. Kalau dia telah merasa aman dari rintangan, dia akan menyangka bahwa dia telah dapat mengatasi segala rintangannya, serta merasakan bahwa jalan yang sedang dijalaninya telah bersih dari segala rintangan. Atau, dia yakin bahwa dia telah sampai kepada ketahanan dan kekuatan iman yang menjamin kemampuannya untuk mengatasi semua rintangan yang mengganggu perjalanannya.

Kita tidak boleh menganggap bahwa apabila kita telah sukses melintasi satu rintangan, rintangan itu tidak akan berulang lagi beberapa kali. Kita mesti sadar bahwa setan dan seluruh konco-konconya dan pembantu-pembantunya dari kalangan musuh-musuh Allah akan terus menunggu dan mengintai para duat dan senantiasa mencoba memalingkan mereka dari dakwah dan jihad mereka di jalan Allah dan jalan kebenaran.

Hanya orang-orang yang mengenali Tuhan mereka, meminta perlindungan kepada Allah dari segala kejahatan mereka saja yang terlepas dari tipu muslihat setan. Allah memuliakan mereka dengan menetapkan pendirian mereka di dalam kebenaran.

"Dan jika kamu berjumpa suatu godaan setan maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Al-A'raaf: 200

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan mereka. Dan teman-teman mereka yaitu orang-orang kafir dan fasik membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-henti menyesatkan." AlA'raaf: 201-202

"Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan di Akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan membuat apa yang dia kehendaki." Ibrahim: 27

Kita memohon kepada Allah supaya Dia menetapkan kita di atas jalan dakwah, menjauhkan kita dari segala kesalahan, melindungi kita dari segala kejahatan diri kita, dari kejahatan setan dan mewafatkan hidup kita dengan kebaikan. Amin.

Selengkapnya...

Beberapa Halangan di Jalan yang Kita Lalui (1)

Penulis: Syaikh Mustafa Masyhur
Jalan dakwah adalah jalan yang mulia dan mahal. Sesungguhnya itulah jalan surga dan diredhai Allah, itulah jalan Allah. "Hai Tuhan kami, tetapkanlah tapak-tapak kaki kami di atas jalanMu".

Jalan dakwah adalah jalan yang dipenuhi dengan segala perkara yang dibenci oleh hawa nafsu dan bukan merupakan jalan yang ditaburi bunga-bunga yang mewangi. Beberapa banyak rintangan yang menghalang dan beberapa banyak penyelewengan yang mungkin terjadi dalam beberapa aspek yang menjauhkan orang yang berjalan di atas jalannya.

Seorang Muslim yang telah menyadari pengertian iman di dalam dirinya dan hatinya merasa bertanggungjawab terhadap Islam mestilah mencari jalan dakwah yang hendak dilaluinya. Dia mestilah mengetahui manhaj atau cara bekerja dan beriltizam dengannya. Setelah itu, dia wajib mempunyai pengetahuan mengenainya, mempunyai kesadaran dan keyakinan supaya dia tidak mudah tergelincir dan terpesong. Supaya dia tidak tersungkur dengan satu halangan.

8.1 Di Antara Rintangan dan Penyelewengan

Terdapat perbedaan yang jelas di antara rintangan dan penyelewengan. Jalan yang menyeleweng itu membawa orang yang melaluinya terpesong dari jalan yang sahih. Maka selagi dia tidak berusaha memperbaiki dirinya dan meninggalkan penyelewengannya, semakin hari dia akan bertambah jauh dari jalan yang benar terutama orang-orang yang berkobar-kobar semangatnya. Ada kalanya dia susah untuk kembali ke jalan yang sahih dan lurus kecuali dia mendapat rahmat dari Allah s.w.t.

Rintangan-rintangan itu biasanya melintang di tengah-tengah jalan dakwah, merintangi para da'i, menahannya, melemahkan keazaman, mengelirukan fikirannya, merusakkan usaha dan hasil dakwahnya dan menjadikan seperti orang lain yang tidak mempunyai bekas, tidak mempunyai pengaruh dan tidak bernilai langsung.

Penyelewengan dan rintangan itu berupa ujian dan halangan yang biasanya menimpa orang-orang yang beriman. Berdasarkan firman Allah yang bermaksud:

"Alif Lam Mim. Adakah manusia menyangka bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: "Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta".(Al-Ankabut: 1-3)

Setelah kita membahas mengenai penyelewengan di dalam tema sebelumnya, kita akan membahas pula rintangan-rintangan ini di dalam tajuk ini, mengingat sebagian dari saudara saya yang dimuliakan telah mengingatkan saya bahwa pembicaraan mengenai penyelewengan ini sangat penting karena berbahaya, lebih-lebih lagi di masa ini dalam sejarah dakwah Islam, memerlukan penjelasan yang lebih lanjut lagi. Oleh itu kita akan kembali membincangkannya setelah kita selesai membicarakan tentang rintangan-rintangan itu.

8.2 Rintangan-rintangan dan Halangan-halangannya

8.2.1 Manusia Meninggalkan Dakwah

Rintangan pertama di jalan dakwah yang dihadapi oleh para duat ialah manusia berpaling dari mereka dan tidak mempedulikan mereka kecuali yang telah diberi hidayat oleh Allah. Sekiranya dugaan-dugaan sedemikian rupa membuat mereka merasa susah, melemahkan keazaman mereka dan mereka tidak berpuas hati dengan sambutan yang telah diperoleh, maka dia telah gagal di permulaan jalan dakwah. Jangan diharapkan lagi mereka ini untuk meneruskan jalannya bersama angkatan para pendukung dakwah kepada Allah.

Wajib setiap orang yang melalui jalan dakwah ini mempersiapkan dan memantapkan dirinya di atas jalan dakwah, walau bagaimana pun susahnya. Dia mesti dapat memahami bahwa untuk mendapat sambutan dan mencapai hasil yang memuaskan bukan satu perkara yang mudah karena pendukung dakwah itu menyeru manusia kepada perkara yang berlainan dengan kehendak nafsu mereka, mengajak mereka meninggalkan beberapa kepercayaan yang sesat dan berbagai-bagai perilaku buruk jahiliah.

Lantaran itu, para da'i mestilah bersabar dan terus bersabar dalam menyampaikan dakwah walaupun berpaling daripadanya atau tidak memberi perhatian terhadap dakwahnya. Kita mengambil teladan dan qudwah hasanah pada diri Rasulullah s.a.w. di dalam urusan dakwah ini karena baginda adalah manusia yang paling tinggi, ideal dan paling mulia bagi para pendukung yang menyeru manusia pada jalan Allah.

Dari sirah Rasul, kita dapati baginda terus menawarkan diri dan dakwahnya kepada kabilah-kabilah dan suku-suku bangsa Arab di pasar-pasar walaupun mereka berpaling dari baginda. Bahkan, mereka mengejek dan mengganggu baginda. Baginda juga merantau ke beberapa tempat yang jauh dan mengalami berbagai kesulitan selama menyampaikan dakwah Islam.

Kita juga dapat mengambil teladan yang baik di dalam pengertian ini dari kisah-kisah yang dihidangkan oleh Al-Quran tentang bagaimana unggulnya kesabaran nabi Nuh a.s. dalam menyeru kaumnya kepada agama Allah. Dia sanggup bertahan dalam menyeru mereka kepada Allah selama 950 tahun walaupun sebagian besar mereka berpaling dari baginda dan juga mengganggu baginda.

Firman Allah:
“Nuh berkata: 'Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sombongnya. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka kepada iman dengan terang-terangan kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan rahasia". (Nuh: 5-9)

Demikianlah kesungguhan dan kesabaran nabi Nuh tatkala menyeru kaumnya kepada Allah siang dan malam, secara rahasia dan terang-terangan tanpa jemu dan putus asa. Kita juga mendapat pelajaran dari kisah nabi Yunus; dengan kaumnya. Dia meninggalkan kaumnya dengan perasaan karena mereka berpaling darinya dan tidak menyambut seruannya lalu Allah memberikan pengajaran kepadanya (ditelan ikan Nun). Ini juga iktibar dan pengajaran kepada para pendukung dakwah kepada Allah.

"Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan". (Al-Ma'idah: 99)

Para duat ila Allah diwajibkan menyampaikan dakwah Islam kepada manusia. Mereka tidak dipertanggungjawabkan akan keberhasilannya dan hanya Allah s.w.t. saja yang berkuasa memberi hidayah.

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada seorang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang dikehendakiNya". (Al-Qasas: 56)

Wahai saudaraku, tatkala kamu menyeru manusia kepada Allah dan orang itu menerimanya dengan segera, itu adalah semata-mata karena karunia Allah. Sebaliknya, jika dia menolak dakwah dan berpaling darimu mungkin pada satu hari kelak dia teringat apa yang telah kamu serukan kepadanya lalu dia sadar dan kembali kepada jalan Allah dan saudara hanyalah menjadi faktor penyebab kepada hidayahNya. Sekiranya dia terus mabuk di dalam kesesatannya dan kebodohannya walaupun kamu telah memberikan berbagai hujah, maka kamu telah menunaikan kewajiban kamu terhadapnya.

Kita mestilah menyadari hakikat bahwa orang yang kita seru kepada Allah dan kebaikan itu sebenarnya sedang berada di dalam keadaan lupa dan lalai. Oleh itu, mereka tidak sadar dan tidak insaf. Orang seperti itulah yang utama diseru dan diberi peringatan sehingga mereka sadar dan ingat kembali.

Janganlah kita menyangka bahwa sambutan mereka yang pertama kepada dakwah telah mencukupi dan memadai untuk meneruskan dan mengekalkan kesadaran mereka terhadap tugas mereka kepada Allah dan kepada Islam supaya mereka terus berjalan di atas sirat almustaqim.

Sekiranya kamu membiarkan mereka beberapa saat tanpa peringatan, pendidikan dan tanpa bimbingan seterusnya kemungkinan mereka akan kembali kepada suasana lupa dan lalai. Lantas kita menyangka bahwa mereka telah berpaling dari kita dan dari dakwah Islam, padahal pada hakikatnya, kitalah yang melupakan mereka dan mengabaikan mereka. Jadi kitalah sebenarnya yang bersalah.

8.2.2 Cibiran dan Ejekan

Tabiat diri kita mudah marah apabila diejek dan diganggu oleh orang lain. Berkat naungan Islam pada umumnya dan penglibatan dalam bidang dakwah pada khususnya, kita diwajibkan melatih diri supaya menerima segala gangguan, ejekan dan hinaan yang menimpa kita di jalan dakwah Islam. Sebenarnya semua ini tidak sedikitpun mengurangi derajat kemuliaan kita. Ambillah uswah hasanah (contoh teladan) yang baik dari diri Rasulullah s.a.w. sendiri yang telah menerima berbagai ejekan dari kaum musyrikin.

Mereka telah melemparkan baginda dengan berbagai tuduhan palsu malah menuduh baginda sebagai pendusta, tukang sihir dan orang gila. Lebih dari itu mereka mengganggu, menyiksa, akhir sekali mereka menawarkan kepada baginda berbagai kemewahan hidup yang istimewa, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah s.a.w.

Mereka mengusir baginda dari negeri baginda tetapi semuanya itu tidak memalingkan baginda dari dakwah, bahkan baginda terus mengembangkan dakwahnya dengan lebih giat lagi sambil berdoa kepada Allah supaya Allah memberi hidayah kepada mereka, dengan bersabda:

"Hai Tuhanku berikanlah petunjuk kepada mereka karena sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui".

Dengan uslub al-hakim (cara yang bijaksana) seperti itu Rasulullah s.a.w. telah sukses menawan beberapa hati yang tadinya tertutup dan menarik beberapa manusia kepada Islam yang tadinya berpaling dari baginda dan yang selama ini menentang baginda. Benarlah Allah Yang Maha Agung apabila berfirman:

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru manusia kepada Allah dan beramal soleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri". Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Dan tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar". (Fusillat: 33-3)

Para da'i tidak boleh sekali-kali marah kepada dirinya. Janganlah dijadikan ejekan dan gangguan manusia sebagai satu sebab yang membawa dia berpaling dari tugas yang mulia ini atau menyebabkan dia berhenti dari usaha dakwah.

Jadilah kamu seperti apa yang dikatakan oleh Imam As Syahid Hassan al-Banna:

"Jadilah kamu dengan manusia seperti pohon buah-buahan yang mereka lempari dengan batu, tetapi pohon itu sebaliknya melempari manusia dengan buah-buahnya".

8.2.3 Penyiksaan

Penyiksaan dari petinggi jahiliah terdiri dari berbagai rupa dan warna dan datang dari berbagai sudut. Penyiksaan terhadap jasmani, rohani dan gangguan terhadap harta, ahli keluarga dan masyarakat, ataupun pemerintah yang sedang berkuasa yang zalim. Mereka inilah yang diseru kepada Allah s.w.t. supaya kembali kepada Islam.

Kita tidak berkata dari pusat kekuatan mereka karena mereka sebenamya lemah, apabila mereka tidak dapat mematahkan hujah-hujah pendukung dakwah Islam, mereka menggunakan cara yang lemah yaitu dengan menerkam, memukul, mencengkram dengan kuku besi mereka dan menyiksa para pendukung kebenaran karena mereka menganggap dan menyangka bahwa kekejaman, pembunuhan dan penyiksaan mereka yang tidak berperikemanusiaan itu akan menghapuskan suara kebenaran ataupun memadamkan nur Ilahi dan sinar Islam. Tetapi sangkaan mereka pasti menemui kegagalan.

"Mereka mau memadamkan nur Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah menyempurnakan cahayanya walaupun dibenci oleh orang-orang kafir". (At-Taubah: 32)

Inilah dia sunnah Allah dalam dakwah untuk pendukung dakwah yang telah berlaku, yang sedang berlaku dan akan terus berlaku sepanjang umur manusia di muka bumi ini.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dam kesengsaraan, serta digoncangkan (bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (Al-Baqarah:214)

Jadi apabila para du'at tidak ridha menerima gangguan dan penyiksaan seperti ini, tidak sabar menanggung sengsara, tidak mengharapkan pahala dari Allah dan hanya mengutamakan kenyamanan dan keselamatan. Gejala ini akan menimbulkan akibat yang merugikan agamanya, merugikan kedudukannya dalam menegakkan kebenaran, malah ia ridha duduk dan tinggal bersenang-senang di rumahnya menjauhkan diri dari jihad dan dakwah. Tidak mau lagi meneruskan perjalanan di jalan dakwah dan tidak mau lagi mengumandangkan suara dakwah dan kebenaran.

Akhirnya dia mengalami kekalahan total di dalam melintasi rintangan itu. Dengan sendirinya, dia mengharamkan dirinya dari mencapai kemuliaan angkatan mujahidin dan ketinggian derajat pendukung dakwah. Allah pasti menggantikannya dengan orang lain yang lebih ridha berjihad pada jalan Allah tanpa takut kepada cercaan siapa pun.

"Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." (Muhammad: 38)

Pada hakikatnya, Allah Maha Kaya dari kita dan jihad kita. "Barangsiapa yang berjihad maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam)." (Al-Ankabut: 6)

Oleh karena itu para dai wajib memperkuat azam mereka, mengukuhkan kemauan mereka sejak bermulanya langkah pertama di atas jalan dakwah. Bersedia menanggung segala sengsara dan gangguan dari manusia, meminta bantuan hanya kepada Allah mengutamakan apa yang ada di sisi Allah, membulatkan keyakinan dan mempercayai dengan sepenuh jiwa raga bahwa segala bala bencana asalkan bukan neraka adalah baik belaka.

Maka janganlah menyerah kalah berhadapan dengan kebatilan yang sedang merongrong dan mengancamnya. Sesungguhnya pada Rasulullah itu ada teladan yang baik. Qudwah hasanah yang telah ditunjukkan oleh para sahabat Rasulullah s.a.w. di dalam menanggung sengsara penyiksaan dan gangguan, tetapi mereka bersabar. Bersama kesusahan itu ada kesenangan dan bahwa gangguan itu merupakan tanda-tanda baik dan berita gembira dan kemenangan serta pertolongan dari Allah.

"Dan sesungguhnya telah didustakan Rasul-rasul sebelum kamu akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolomgan kami kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat merubah kalimah-kalimah (janji) Allah". (Al-An 'aam: 34)

8.2.4 Kelapangan dan Kesenangan Setelah Kesusahan

Para pendukung dakwah yang muslim, biasanya mampu menghadapi bukit-bukit rintangan yang telah lalu yang berupa penolakan manusia, ejekan mereka serta gangguan dan penentangan mereka. Dengan penuh kesabaran, ketahanan, kesadaran dan kewaspadaan mereka mengumpulkan segala tenaga yang ada pada mereka untuk menghadapi gangguan pihak-pihak pendukung kebatilan jahiliah dan akhirnya mereka mencapai kejayaan.

Kekuatan, kemauan dan jiwa mereka tidak pernah lemah dan luntur walaupun menghadapi kesusahan hidup, kerusakan dan keburukan suasana serta berbagai gangguan dan penindasan dari pihak yang menentang dakwah. Sehingga akhirnya Allah menghapuskan kesusahan, kesulitan dan meringankan tekanan dan gangguan baik seluruhnya atau sebagiannya.

Biasanya pertolongan Allah ini akan mengurangi kepayahan dan keletihan serta menimbulkan kerehatan dan kelapangan untuk ketenangan saraf dan ketenteraman jiwa demi memperbaharui keaktifan dan kesegaran. Di sinilah lahirnya pula satu bukit halangan yang tidak terduga. Ketenangan jiwa, ketenteraman warna suasana penuh kerehatan dan kelapangan, kadang-kadang melalaikan kita, lantas kita menyerah kepadanya dan terus terlelap dan enak di dalamnya. Terutamanya apabila kerehatan dan kelapangan itu disertai oleh kemewahan atau kesenangan hidup.

Kadang-kadang orang yang terjatuh pada bentuk rintangan seperti ini akan mencari-cari dan mereka-reka berbagai alasan untuk membenarkan tindakannya yang tidak sesuai dengan harakah dan merugikan dakwah Islam dan jihad. Sikap ini hanyalah semata-mata bertujuan untuk mengurangkan tekanan jiwa lawwamahnya (jiwa yang menyesali).

Akhirnya kerehatan dan kelapangan yang terbuka itu menjadi sempurna tanpa sebarang tekanan. Oleh karena itu, pendukung dakwah yang benar janjinya kepada Allah dan benar niatnya untuk berdakwah dan telah menjual dirinya dan hartanya kepada Allah, mesti menyadari dan menginsafi perkara ini dan hendaklah berterusan melepasi rintangan demi rintangan tanpa tersangkut dan tersungkur padanya.

Saudara-saudaranya pula mesti menarik tangannya dan menolongnya untuk bangkit kembali meneruskan jihad dan perjuangannya di jalan Allah.

Dakwah Islam senantiasa memerlukan usaha dan tenaga yang maksimal supaya dakwah senantiasa subur dan mekar. Alhamdulillah. Kemenangan dan kelapangan yang terluang tadi hanyalah merupakan alat (peluang) untuk memperbaharui kekuatan, kegiatan. "Dan tanah yang baik, tanam-tanamannya tumbuh subur dengan izin Allah" Al-A'raaf:58

Selengkapnya...

Hukum Sholat Berjamaah

Oleh: Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.

Di kalangan ulama berkembang banyak pendapat tentang hukum shalat berjamaah. Ada yang mengatakan fardhu `ain, sehingga orang yang tidak ikut shalat berjamaah berdosa. Ada yang mengatakan fardhu kifayah sehingga bila sudah ada shalat jamaah, gugurlah kewajiban orang lain untuk harus shalat berjamaah. Ada yang mengatakan bahwa shalat jamaah hukumnya fardhu kifayah. Dan ada juga yang mengatakan hukumnya sunnah muakkadah.

Berikut kami uraikan masing-masing pendapat yang ada beserta dalil masing-masing.

1. PendapatPertama: Fardhu Kifayah

Yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Asy-Syafi`i dan Abu Hanifah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Habirah dalam kitab Al-Ifshah jilid 1 halaman 142. Demikian juga dengan jumhur (mayoritas) ulama baik yang lampau (mutaqaddimin) maupun yang berikutnya (mutaakhkhirin). Termasuk juga pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah.

Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan shalat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada di situ. Hal itu karena shalat jamaah itu adalah bagian dari syiar agama Islam.

Di dalam kitab Raudhatut-Thalibin karya Imam An-Nawawi disebutkan bahwa:

Shalat jamaah itu itu hukumnya fardhu `ain untuk shalat Jumat. Sedangkan untuk shalat fardhu lainnya, ada beberapa pendapat. Yang paling shahih hukumnya adalah fardhu kifayah, tapi juga ada yang mengatakan hukumnya sunnah dan yang lain lagi mengatakan hukumnya fardhu `ain.

Adapun dalil mereka ketika berpendapat seperti di atas adalah:

Dari Abi Darda` ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya.” (HR Abu Daud 547 dan Nasai 2/106 dengan sanad yang hasan)

Dari Malik bin Al-Huwairits bahwa Rasulullah SAW, `Kembalilah kalian kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka shalat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila waktu shalat tiba, maka hendaklah salah seorang kalian melantunkan azan dan yang paling tua menjadi imam.(HR Muslim 292 – 674).

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. (HR Muslim 650, 249)

Al-Khatthabi dalam kitab Ma`alimus-Sunan jilid 1 halaman 160 berkata bahwa kebanyakan ulama As-Syafi`i mengatakan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya fardhu kifayah bukan fardhu `ain dengan berdasarkan hadits ini.

2. Pendapat Kedua: Fardhu `Ain

Yang berpendapat demikian adalah Atho` bin Abi Rabah, Al-Auza`i, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, umumnya ulama Al-Hanafiyah dan mazhab Hanabilah. Atho` berkata bahwa kewajiban yang harus dilakukan dan tidak halal selain itu, yaitu ketika seseorang mendengar azan, haruslah dia mendatanginya untuk shalat. (lihat Mukhtashar Al-Fatawa Al-MAshriyah halaman 50).

Dalilnya adalah hadits berikut:

Dari Aisyah ra berkata, `Siapa yang mendengar azan tapi tidak menjawabnya (dengan shalat), maka dia tidak menginginkan kebaikan dan kebaikan tidak menginginkannya. (Al-Muqni` 1/193)

Dengan demikian bila seorang muslim meninggalkan shalat jamaah tanpa uzur, dia berdoa namun shalatnya tetap syah.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).

3. Pendapat Ketiga: Sunnah Muakkadah

Pendapat ini didukung oleh mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah sebagaimana disebutkan oleh imam As-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar jilid 3 halaman 146. Beliau berkata bahwa pendapat yang paling tengah dalam masalah hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakkadah. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya fardhu `ain, fardhu kifayah atau syarat syahnya shalat, tentu tidak bisa diterima.

Al-Karkhi dari ulama Al-Hanafiyah berkata bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah, namun tidak disunnahkan untuk tidak mengikutinya kecuali karena uzur. Dalam hal ini pengertian kalangan mazhab Al-Hanafiyah tentang sunnah muakkadah sama dengan wajib bagi orang lain. Artinya, sunnah muakkadah itu sama dengan wajib. (silahkan periksan kitab Bada`ius-Shanai` karya Al-Kisani jilid 1 halaman 76).

Khalil, seorang ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Al-Mukhtashar mengatakan bahwa shalat fardhu berjamaah selain shalat Jumat hukumnya sunnah muakkadah. Lihat Jawahirul Iklil jilid 1 halama 76.

Ibnul Juzzi berkata bahwa shalat fardhu yang dilakukan secara berjamaah itu hukumnya fardhu sunnah muakkadah. (lihat Qawanin Al-Ahkam As-Syar`iyah halaman 83). Ad-Dardir dalam kitab Asy-Syarhu As-Shaghir jilid 1 halaman 244 berkata bahwa shalat fardhu dengan berjamaah dengan imam dan selain Jumat, hukumnya sunnah muakkadah.

Dalil yang mereka gunakan untuk pendapat mereka antara lain adalah dalil-dalil berikut ini:

Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, `Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. (HR Muslim 650, 249)

Ash-Shan`ani dalam kitabnya Subulus-Salam jilid 2 halaman 40 menyebutkan setelah menyebutkan hadits di atas bahwa hadits ini adalah dalil bahwa shalat fardhu berjamaah itu hukumnya tidak wajib.

Selain itu mereka juga menggunakan hadits berikut ini:

Dari Abi Musa ra berkata bahwa Rasulullah SAw bersabda, `Sesungguhnya orang yang mendapatkan ganjaran paling besar adalah orang yang paling jauh berjalannya. Orang yang menunggu shalat jamaah bersama imam lebih besar pahalanya dari orang yang shalat sendirian kemudian tidur. (lihat Fathul Bari jilid 2 halaman 278)

4. Pendapat Keempat: Syarat Syahnya Shalat

Pendapat keempat adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukum syarat fardhu berjamaah adalah syarat syahnya shalat. Sehingga bagi mereka, shalat fardhu itu tidak syah kalau tidak dikerjakan dengan berjamaah.

Yang berpendapat seperti ini antara lain adalah Ibnu Taymiyah dalam salah satu pendapatnya (lihat Majmu` Fatawa jilid 23 halaman 333). Demikian juga dengan Ibnul Qayyim, murid beliau. Juga Ibnu Aqil dan Ibnu Abi Musa serta mazhab Zhahiriyah (lihat Al-Muhalla jilid 4 halaman 265). Termasuk di antaranya adalah para ahli hadits, Abul Hasan At-Tamimi, Abu Al-Barakat dari kalangan Al-Hanabilah serta Ibnu Khuzaemah.

Dalil yang mereka gunakan adalah:

Dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulullah SAw bersaba, `Siapa yang mendengar azan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada lagi shalat untuknya, kecuali karena ada uzur.(HR Ibnu Majah793, Ad-Daruquthuny 1/420, Ibnu Hibban 2064 dan Al-Hakim 1/245)

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya shalat yang paling berat buat orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh. Seandainya mereka tahu apa yang akan mereka dapat dari kedua shalat itu, pastilah mereka akan mendatanginya meski dengan merangkak. Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api.” (HR Bukhari 644, 657, 2420, 7224. Muslim 651 dan lafaz hadits ini darinya).

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya, `Apakah kamu dengar azan shalat?`. `Ya`, jawabnya. `Datangilah`, kata Rasulullah SAW. (HR Muslim 1/452).

Kesimpulan:

Setiap orang bebas untuk memilih pendapat manakah yang akan dipilihnya. Dan bila kami harus memilih, kami cenderung untuk memilih pendapat menyebutkan bahwa shalat berjamaah itu hukumnya sunnah muakkadah, karena jauh lebih mudah bagi kebanyakan umat Islam serta didukung juga dengan dalil yang kuat. Meskipun demikian, kami tetap menganjurkan umat Islam untuk selalu memelihara shalat berjamaah, karena keutamaannya yang disepakati semua ulama.

(HR Ibnu Majah 1/202, An-Nasai 3/112, Ibnu Khuzaemah 3/173, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/291 dia menshahihkan hadits ini hadits ini dari tiga jalannya).

Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber: http://www.eramuslim.com/

Selengkapnya...

Orang yang takut (Khouf) kepada Alloh

Khouf adalah cambuk Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk menggiring hamba-hamba-Nya menuju ilmu dan amal agar mereka mendapatkan kedekatan dengan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Khouf inilah yang mencegah dan menjahui setiap diri dari perbuatan maksiat dan mengikatnya dengan bentuk-bentuk ketaatan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Ketika seorang hamba kekurangan khouf kepada Alloh, maka akan mengakibatkan ke-lupa-an dan keberanian untuk berbuat dosa. Dan Sebaliknya terlalu berlebihan dalam khouf akan menyebabkan putus asa-putus harapan.

Khouf kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala bisa lahir dari ma’rifah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan ma’rifah kepada sifat-sifatNya. Khouf bisa juga lahir dari perasan banyaknya dosa yang telah diperbuat oleh seorang hamba. Juga terkadang khouf lahir dari keduanya.

Sesungguhnya yang alim itu hanyalah yang takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: ”Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Fathir: 28)

Orang yang takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala bukanlah orang yang menangis dan bercucuran air matanya. Tetapi ia adalah orang yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang ia khawatirkan hukumannya.

Dzun Nun al-Mishriy pernah ditanya, “Kapankah seorang hamba itu takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala?” Ia menjawab, “Jika ia mendudukkan dirinya sebagai orang sakit yang menahan didi(dari berbagai hal) khawatir jika sakitnya berkepanjangan.”

Abul Qasim al-Hakim bertutur, “Siapa yang takut terhadap sesuatu ia akan lari darinya. Tetapi siapa yang takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala ia justru lari untuk mendekatinya.”

Fudlail bin ‘Iyadl berujar,”Jika kamu ditanya, ‘Apakah kamu takut kepada Alloh?’, maka diamlah, jangan menjawab! Sebab jika kamu jawab ‘ya’, kamu telah berdusta. Sedangkan jika kamu jawab ‘tidak’, maka kamu telah kafir!!!”

Khauf akan membakar syahwat yang diharankan, sehingga kemaksiatan yang dulu disukai menjadi di benci. Seperti madu, orang yang suka pun menjadi tidak suka jika tahu madu itu mengandung racun. Syahwat terbakar oleh khauf. Anggota badan pun jadi beradab. Dan hati pun diliputi rasa khusyu’ dan tenang, jauh dari kesombongan, iri, dan dengki. Bahkan ia mampunmenguasi segala kegundahan dan tahu bahayanya. Maka ia tidak pernah pindah kepada selainNya. Tiada lagi keibukannya selain usaha mendekatkan diri , muhasabah, mujahadah, dan memperhitungkan setiap desah nafas dan waktunya.

Ia selalu waspada terhadap segala pikiran, langkah, dan kalimat yang keluar dari dirinya. Keadaannya seperti dalam cengkeraman binatang buas. Ia tidak tahu apakah binatang itu lengah sehingga ia bisa melepaskan diri, atau sebaliknya ia justru menerkamnya maka hancurlah ia. Lahir dan batinnya disibukkan oleh sesuatu yang ia takutkan, tidak ada tempat bagi yang lain disana. Beginilah keadaan orang yang diliputi khauf

KEUTAMAAN KHAUF

Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyediakan petunjuk, rahmat, ilmu, dan keridhoan bagi hamba yang khauf kepadaNya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami” (QS. Al-A’raf: 156)

“….. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada RabbNya” (QS. Al-Bayyinah: 8)
Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan khauf, dan menjadikannya syarat iman. “……. Dan takutlah kalian kepadaKu, jika kalian benar-benar beriman.! (QS. Ali Imran: 175).

Yahya bin Mu’adz berkata, “Jika seorang mukmin melakukan suatu kemaksiatan, ia pasti menindaklanjutinya dengan salah satu dari dua hal yang akan menghantarkannya ke surga; takut akan siksa dan harapan akan ampunan.”

DALIL-DALIL TENTANG KHAUF

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Robb mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Rabb mereka. Dan orang-orang yang tidak menyekutukan Rabb mereka (sesuatu pun). Dan orang-orang yang telah memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut,(karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera untuk berbuat kebaikan, dan merekalah orang-orang yang pertama-tama memperolehnya.”

Imam Tirmidziy meriwayatkan, Aisyah berkata,” Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini, apakah yang dimaksud disini orang-orang yangmeminum arak, berzina dan mencuri?” Rasululloh saw menjawab, “Bukan begitu, wahai puti as-Shiddiq. Tetapi mereka orang-orang yang berpuasa, sholat, dan bersedekah. Mereka takut jika amalannya tidak diterima. Merekalah yang bersegera dalam kebaikan.” (Hadits shohih riwayat at-Tirmidiy Kitaabut-tafsir IX/19, al-Hakim at-Tafsir II/393 menyatakannya shohih dan disepakati oleh adz-Dzahabiy).

Abdullah bin as-Syikhiir meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika memulai sholat terdenagrlah dari dada beliau gemuruh seperti suara air yang mendidih dalam bejana.

Siapapun yang mencermati kehidupan para sahabat dan para salafus-sholih pasti akan mendapati betapa mereka berada di puncak khauf. Adapun kita, semuanya benar-benar lalai, alpa, dan merasa aman dari adzab.

Abu Bakr as-Shiddiq berkata, “Duhai, seandainya aku adalah sehelai rambut yang tumbuh di tubuh seorang mukmin.” Adalah beliau bila berdiri sholat, tak ubahnya seperti sebatang kayu (tidak bergerak) karena takut kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Umar bin Khatthab pernah membaca surat at-Thuur. Ketika sampai pada ayat yang artinya: “Sungguh, adzab Rabbmu pasti benar-benar terjadi” (QS. Ath-Thuur : 7)

Beliau menangis dan semakin menghebat tangis beliau sampai beliau sakit, dan orang-orang pun menjenguk beliau.

Adalah pada wajah beliau ada dua gais hitam lantaran banyak menangis. Kepadanya Abdullah bin ‘Abbas pernah berkata, “Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah meramaikan berbagai kota dan membukakan berbagai negri dengan tanganmu.” Mendengar itu Umar berkata, “Aku ingin kalau bisa meninggalkan dunia ini tanpa pahala dan tanpa dosa.”

Suatu pagi, seusai melaksanakan sholat shubuh, dengan bermuran durja dan membolak-balikkan telapak tangannya, ‘Ali bin Abu Thalib berkata, “Sungguh aku pernah melihat para sahabat Nabi. Pada hari ini aku tidak melihat sesuatu pun yang nenyerupai mereka. Di pagi hari mereka nampak kusut, pucat dan berdebu. Di antara dua mata mereka seperti ada lutut kambing. Mereka menghabiskan malam dengan bersujud dab berdiri membaca ayat-ayat Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Gerakan mereka hanyalah antara kening dan kaki. Bila pagi tiba mereka pun berdzikir kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bergemuruh seperti pepohonan tertiup angin yang kencang. Mata mereka bercucuran air mata sampai-sampai pakaian mereka basah karenanya. Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala hari-hari ini sepertinya aku menghabiskan malam bersama kaum ini dalam keadaanlalai.” Lantas beliau berdiri dan sejak itu beliau tidak pernah kelihata tertawa sampai dibunuh oleh Ibnu Muljam.

Musa bin Mas’ud berkisah, Kla kami bermajlis dengan Sufyan ats-Tsauriy, seakan-akan neraka ada di sekitar kami. Yang demikian itu karena kami melihat beapa takut dan khawatirnya ia.

Seseorang menggambarkan keadaan Hasan al-Bashriy, “jika ia datang, seakan-akan ia datang dari menguburkan teman karibnya. Jika ia duduk, seakan-akan ia adalah seorang tawanan yang akan dipenggal lehernya. Jika berbicara tentang neraka, seakan-akan neraka itu hanya diciptakan untuknya.

Zurarah bin Abu Aufa pernah mengimami orang-orang sholat shubuh. Beliau membaca surat al-Muddatstsir. Ketika sampai pada ayat, yang artinya: ”Apabila sangkakala telah ditiup. maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit” (QS. Al-Muddatstsir : 8-9)

Beliau terisak-isak dan lalu meninggal dunia. (lihat al-‘ibar,adz-Dzahabiy I/109).

Abdullah bin Amr bin ‘Ash bertutur, “Menangislah! Jika tidak bisa maka usahakan untuk menangis. Demi Alloh, jika salah seorang di antara kalian benar-benar mengerti, pastilah ia akan berteriak sekeras-kerasnya sampai hilang suaranya, dan akan sholat sampai patah tulang punggungnya.

Sumber: http://tarbiyahislam.wordpress.com/2007/07/02/orang-yang-takut-khouf-kepada-alloh/

Selengkapnya...

Kisah Perjalanan Rasulullah SAW ke Syurga Bersama Dua Tamunya

Di suatu pagi hari, Rasulullah SAW bercerita kepada para sahabatnya, bahwa semalam beliau didatangi dua orang tamu. Dua tamu itu mengajak Rasulullah untuk pergi ke suatu negeri, dan Rasul menerima ajakan mereka. Akhirnya mereka pun pergi bertiga.

Ketika dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang yang tengah berbaring. Tiba-tiba di dekat kepala orang itu ada orang lain yang berdiri dengan membawa sebongkah batu besar. Orang yang membawa batu besar itu dengan serta merta melemparkan batu tadi ke atas kepala orang yang sedang berbaring, maka remuklah kepalanya dan menggelindinglah batu yang dilempar tadi. Kemudian orang yang melempar batu itu berusaha memungut kembali batu tersebut. Tapi dia tidak bisa meraihnya hingga kepala yang remuk tadi kembali utuh seperti semula. Setelah batu dapat diraihnya, orang itu kembali melemparkan batu tersebut ke orang yang sedang berbaring tadi, begitu seterusnya ia melakukan hal yang serupa seperti semula.

Melihat kejadian itu, Rasulullah bertanya kepada dua orang tamu yang mengajaknya, “Maha Suci Allah, apa ini?”

“Sudahlah, lanjutkan perjalanan!” jawab keduanya.

Maka mereka pun pergi melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, mereka mendatangi seseorang lagi. Orang tersebut sedang terlentang dan di sebelahnya ada orang lain yang berdiri dengan membawa gergaji dari besi. Tiba-tiba digergajinya salah satu sisi wajah orang yang sedang terlentang itu hingga mulut, tenggorokan, mata, sampai tengkuknya. Kemudian si penggergaji pindah ke sisi yang lain dan melakukan hal yang sama pada sisi muka yang pertama. Orang yang menggergaji ini tidak akan pindah ke sisi wajah lainnya hingga sisi wajah si terlentang tersebut sudah kembali seperti sediakala. Jika dia pindah ke sisi wajah lainnya, dia akan menggergaji wajah si terletang itu seperti semula. Begitu seterusnya dia melakukan hal tersebut berulang-ulang.

Rasulullah pun bertanya, “Subhanallah, apa pula ini?”

Kedua tamunya menjawab, “Sudah, menjauhlah!”

Maka mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Selanjutnya mereka mendatangi sesuatu seperti sebuah tungku api, atasnya sempit sedangkan bagian bawahnya besar, dan menyala-nyala api dari bawahnya. Di dalamnya penuh dengan jeritan dan suara-suara hiruk pikuk. Mereka pun melongoknya, ternyata di dalamnya terdapat para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang. Dan dari bawah ada luapan api yang melalap tubuh mereka. Jika api membumbung tinggi mereka pun naik ke atas, dan jika api meredup mereka kembali ke bawah. Jika api datang melalap, maka mereka pun terpanggang.

Rasulullah kembali bertanya, “Siapa mereka?”

Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”

Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka mendatangi sebuah sungai, sungai yang merah bagai darah. Ternyata di dalam sungai tadi ada seseorang yang sedang berenang, sedangkan di tepi sungainya telah berdiri seseorang yang telah mengumpulkan bebatuan banyak sekali. Setiap kali orang yang berenang itu hendak berhenti dan ingin keluar dari sungai, maka orang yang ditepi sungai mendatangi orang yang berenang itu dan menjejali mulutnya sampai ia pun berenang kembali. Setiap kali si perenang kembali mau berhenti, orang yang di tepi sungai kembali menjejali mulut si perenang dengan bebatuan hingga dia kembali ke tengah sungai.

Rasulullah pun bertanya, “Apa yang dilakukan orang ini?!”

“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.

Maka mereka pun melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, mereka mendapatkan seseorang yang amat buruk penampilannya, sejelek-jeleknya orang yang pernah kita lihat penampilannya, dan di dekatnya terdapat api. Orang tersebut mengobarkan api itu dan mengelilinginya.

“Apa ini?!” tanya Rasulullah

“Menjauhlah, menjauhlah!” jawab kedua tamunya.

Lalu mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dalam perjalanan mereka menemukan sebuah taman yang indah, dipenuhi dengan bunga-bunga musim semi. Di tengah taman itu ada seorang lelaki yang sangat tinggi, hingga Rasulullah hampir tidak bisa melihat kepala orang itu karena tingginya. Di sekeliling orang tinggi itu banyak sekali anak-anak yang tidak pernah Rasul lihat sebegitu banyaknya.

Melihat itu, Rasulullah kembali bertanya, “Apa ini? Dan siapa mereka?”

Kedua tamunya menjawab, “Menjauhlah, menjauhlah!”

Maka mereka pun pergi berlalu. Lalu mereka menyaksikan sebuah pohon yang amat besar, yang tidak pernah Rasul lihat pohon yang lebih besar dari ini. Pohon ini juga indah. Kedua tamu Rasul berkata, “Naiklah ke pohon itu!”

Lalu mereka pun memanjatnya. Rasul dituntun menaiki pohon dan dimasukkannya ke dalam sebuah rumah yang sangat indah yang tak pernah Rasul lihat seumpamanya. Di dalamnya terdapat lelaki tua dan muda. Lalu mereka sampai pada sebuah kota yang dibangun dengan batu bata dari emas dan perak. Mereka mendatangi pintu gerbang kota itu. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka memasukinya. Mereka disambut oleh beberapa orang, sebagian mereka adalah sebaik-baik bentuk dan rupa yang pernah kita lihat, dan sebagiannya lagi adalah orang yang seburuk-buruk rupa yang pernah kita lihat. Kedua tamu yang bersama Rasulullah berkata kepada orang-orang itu, “Pergilah, dan terjunlah ke sungai itu!”

Ternyata ada sungai terbentang yang airnya sangat putih jernih. Mereka pun segera pergi dan menceburkan dirinya masing-masing ke dalam sungai itu. Kemudian mereka kembali kepada Rasululullah dan dua tamunya. Kejelekan serta keburukan rupa mereka tampak telah sirna, bahkan mereka dalam keadaan sebaik-baik rupa!

Lalu kedua orang tamu Rasulullah berkata, “Ini adalah Surga ‘Adn, dan inilah tempat tinggalmu!”

“Rumah pertama yang kau lihat adalah rumah orang-orang mukmin kebanyakan, adapun rumah ini adalah rumah para syuhada’, sedangkan aku adalah Jibril dan ini Mika’il. Maka angkatlah mukamu (pandanganmu).”

Maka mata Rasulullah langsung menatap ke atas, ternyata sebuah istana bagai awan yang sangat putih. Kedua tamu Rasulullah berkata lagi, “Inilah tempat tinggalmu!”

Rasulullah berkata kepada mereka, “Semoga Allah memberkati kalian.”

Kedua tamu itu lalu hendak meninggalkan Rasulullah. Maka Rasulullah pun segera ingin masuk ke dalamnya, tetapi kedua tamu itu segera berkata, “Tidak sekarang engkau memasukinya!” [1]

“Aku telah melihat banyak keajaiban sejak semalam, apakah yang kulihat itu?” tanya Rasulullah kepada mereka.

Keduanya menjawab, “Kami akan memberitakan kepadamu. Adapun orang yang pertama kau datangi, yang remuk kepalanya ditimpa batu, dia itu adalah orang yang membaca Al Qur’an tetapi ia berpaling darinya, tidur di kala waktu shalat fardhu (melalaikannya). Adapun orang yang digergaji mukanya sehingga mulut, tenggorokan, dan matanya tembus ke tengkuknya, adalah orang yang keluar dari rumahnya dan berdusta dengan sekali-kali dusta yang menyebar ke seluruh penjuru. Adapun orang laki-laki dan perempuan yang berada dalam semacam bangunan tungku, maka mereka adalah para pezina. Adapun orang yang kamu datangi sedang berenang di sungai dan dijejali batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun orang yang sangat buruk penampilannya dan di sampingnya ada api yang ia kobarkan dan ia mengitarinya, itu adalah malaikat penjaga neraka jahannam.

Adapun orang yang tinggi sekali, yang ada di tengah-tengah taman, itu adalah Ibrahim AS. Sedangkan anak-anak di sekelilingnya adalah setiap bayi yang mati dalam keadaan fitrah.”



Lalu di sela-sela penyampaian cerita ini, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan anak orang-orang musyrik?”

Rasulullah menjawab, “Dan anak orang-orang musyrik.”

Lalu Rasulullah SAW melanjutkan ceritanya.

Adapun orang-orang yang sebagian mukanya bagus, dan sebagian yang lain mukanya jelek, mereka itu adalah orang-orang yang mencampuradukan antara amalan shalih dan amalan buruk, maka Allah mengampuni kejelekan mereka. []

Maraji’: Riyadhush Shalihin

_______________
Catatan kaki:

[1] Dalam hadits riwayat Bukhari lainnya, dikisahkan bahwa kedua tamu Rasulullah itu mengatakan kepada Rasulullah, “Kamu masih memiliki sisa umur yang belum kamu jalani, jika kau telah melaluinya maka kau akan masuk rumahmu.” (HR. Bukhari)

Sumber : http://hudzaifah.org/Article459.phtml

Selengkapnya...